{"id":4156,"date":"2024-02-12T17:59:41","date_gmt":"2024-02-12T10:59:41","guid":{"rendered":"https:\/\/fkam.id\/?p=4156"},"modified":"2024-02-12T17:59:41","modified_gmt":"2024-02-12T10:59:41","slug":"penggalian-sumur-zamzam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.fkam.id\/?p=4156","title":{"rendered":"Penggalian Sumur Zamzam"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ringan tugas Abdul Mutthallib sebagai pemimpin Makkah. Kota ini terletak di lembah yang gersang. Hujan jarang sekali turun. Persediaan air sangat terbatas. Setiap kelompok masyarakat berusaha menemukan sumur-sumur di sekitar Makkah. Akan tetapi, karena sulitnya air, mereka biasanya memonopoli untuk kalangan mereka sendiri. Sadar akan tanggung jawabnya yang besar menyiapkan air, maka Abdul Mutthallib dibantu oleh anaknya, Al-Harits, sering kali harus mengangkut air dari luar Makkah untuk ditampung di kolam-kolam besar dekat Ka\u2018bah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mimpi yang Memberi Petunjuk<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Suatu ketika, Abdul Mutthallib sedang tidur di <em>Hijr <\/em>(sebuah tempat dekat Ka\u2018bah). Ia bermimpi didatangi seseorang yang berkata, \u201cGalilah <em>Thayyibah<\/em>!\u201d \u201cApa itu <em>Thayyibah<\/em>?,\u201d tanya Abdul Mutthallib. Orang itu pergi tanpa menjawab. Hari berikutnya, Abdul Mutthallib tidur di tempat yang sama. Ia kembali bermimpi didatangi orang sebelumnya. Orang itu berkata, \u201cGalilah <em>Barrah<\/em>!\u201d \u201cApa itu <em>Barrah<\/em>?,\u201d tanya Abdul Mutthallib. Orang itu pergi tanpa menjawab. Hari ketiga, Abdul Mutthallib tidur lagi di <em>Hijr<\/em>. Ia bermimpi lagi didatangi orang yang sama. Orang itu berkata, \u201cGalilah <em>Madhnunah<\/em>!\u201d \u201cApa itu <em>Madhnunah<\/em>?,\u201d tanya Abdul Mutthallib. Orang itu pergi tanpa menjawab. Hari keempat, sekali lagi Abdul Mutthallib tidur di <em>Hijr. <\/em>Lagi-lagi, ia bermimpi didatangi orang sebelumnya. Kali ini, orang itu berkata, \u201cGalilah Zamzam?\u201d \u201cApa itu Zamzam?,\u201d tanya Abdul Mutthallib. Orang itu menjelaskan, \u201cSumur yang selamanya tidak akan kering dan tidak akan berkurang airnya. Sumber air minum bagi jamaah yang amat banyak jumlahnya. Sumur itu terletak di antara tahi ternak dan darah, di <em>Nuqratul Ghurab Al-A<\/em><em>\u2018<\/em><em>sham<\/em> (tempat yang dipatuki burung gagak), di <em>Qaryatun Naml <\/em>(tempat yang banyak semutnya). (<em>Sirah Ibn Hisyam, <\/em>terbitan Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1\/163 &#8211; 164).<\/p>\n\n\n\n<p>Pada mulanya Abdul Mutthallib ragu dan gelisah, serta khawatir jangan sampai ia dicemooh masyarakat, lebih-lebih yang selama itu iri hati, jika ia mengikuti perintah mimpi tersebut, lalu ternyata merupakan mimpi bohong. Oleh karenanya, ia meminta pertimbangan istrinya, Samra\u2019 binti Jundub. Sang istri mendukung dan mendorongnya memenuhi perintah mimpi itu sambil menyatakan bahwa hal serupa sering terjadi di pedesaan. \u201cBerkorbanlah dengan menyembelih binatang dan persembahkanlah kepada Tuhan dengan menjamu fakir miskin.\u201d Demikian kurang lebih saran istrinya. (M. Quraish Shihab, <em>Membaca Sirah Nabi Muhammad, <\/em>hlm. 149)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kaum Quraisy Menuntut Hak terhadap Sumur Zamzam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah mengetahui tempat sumur Zamzam dan meyakini bahwa orang yang memberitahunya dalam mimpi tidak berdusta, Abdul Mutthallib pergi bersama putranya, Al-Harits, membawa cangkul. Ketika itu, ia belum mempunyai anak selain Al-Harits yang sudah menjelang usia dewasa. Ia menggali di tempat orang Quraisy biasa menyembelih korban untuk berhala mereka. Ia melihat burung gagak mematuk di tempat itu. Tatkala dinding sumur mulai terlihat, bertakbirlah Abdul Mutthallib.<\/p>\n\n\n\n<p>Orang Quraisy mengetahui bahwa Abdul Mutthallib telah menemukan sumur Zamzam. Mereka ramai-ramai mendatanginya dan menuntut, \u201cHai Abdul Mutthallib! Sumur itu adalah milik nenek moyang kita, Ismail. Kami juga mempunyai hak terhadapnya. Kami juga ingin memilikinya.\u201d Abdul Mutthallib menjawab, \u201cTidak. Aku tidak akan memberikannya. Urusan ini hanya untuk kami; tanpa mengikutsertakan kalian.\u201d Mereka membalas, \u201cKami tidak akan meninggalkanmu sampai berhasil menuntutmu dalam urusan ini.\u201d Abdul Mutthallib berkata, \u201cKalau begitu, angkatlah orang yang kalian kehendaki sebagai hakim untuk memutuskan urusan ini!\u201d \u201cBaik. Kita serahkan urusan ini kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa\u2018ad bin Hudzaim yang berada di dataran tinggi Syam.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Berangkatlah Abdul Mutthallib bersama beberapa orang dari Bani Abdi Manaf. Sementara itu, setiap kabilah dari suku Quraisy juga berangkat dalam beberapa rombongan. Dalam perjalanan, mereka kehabisan air dan hampir mati kehausan. Mereka meminta air kepada sesama orang Quraisy, tetapi tidak ada yang mau berbagi air. Abdul Mutthallib kemudian bertanya, \u201cBagaimana menurut kalian?\u201d \u201cKami mengikuti pendapatmu. Terserah engkau mau memerintahkan apa!,\u201d jawab mereka. Abdul Mutthallib lalu menyarankan agar setiap orang menggali kubur. Jika ada orang yang mati, maka yang lain akan menguburnya. Jika mereka terus tidak mendapat air hingga semuanya mati, maka mereka semua akan terkuburkan, selamat dari menjadi mangsa hewan buas, kecuali orang yang terakhir mati.<\/p>\n\n\n\n<p>Saran Abdul Mutthallib disetujui. Masing-masing mereka menggali kubur untuk dirinya sendiri. Mereka menunggu ajal dengan murung dan wajah pucat. Tiba-tiba Abdul Mutthallib berseru, \u201cIni merupakan kematian yang sangat hina. Lebih baik kita semua bergerak di gurun mencari air.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tatkala hewan tunggangan Abdul Mutthallib bangkit dari tempat menderumnya, tiba-tiba terpancarlah air segar dari situ. Mereka bertakbir dengan suara keras. Mereka minum air itu dan memenuhi wadah mereka. Mereka lalu berkata, \u201cDemi Allah, kami tidak akan menuntutmu lagi dalam urusan sumur Zamzam, wahai Abdul Mutthallib! Allah lah yang memberimu air di tanah kering ini. Dia juga yang memberimu air Zamzam. Karena itu, ambil kembali hak <em>siqayah<\/em>-mu dengan baik.\u201d (Ibnul Atsir, <em>Al-Kamil fi At-Tarikh, <\/em>I\/615 &#8211; 616).&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak ringan tugas Abdul Mutthallib sebagai pemimpin Makkah. Kota ini terletak di lembah yang gersang. Hujan jarang sekali turun. <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4304,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-4156","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-siroh-nabawiyah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4156","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4156"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4156\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4304"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4156"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4156"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4156"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}