{"id":1900,"date":"2023-08-26T14:39:39","date_gmt":"2023-08-26T07:39:39","guid":{"rendered":"https:\/\/fkam.id\/?p=1900"},"modified":"2023-08-26T14:39:39","modified_gmt":"2023-08-26T07:39:39","slug":"berbakti-kepada-orang-tua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.fkam.id\/?p=1900","title":{"rendered":"Berbakti Kepada Orang Tua"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Oleh: Dr. Mulyanto Abdullah Khoir, M.Ag.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah kewajiban seorang anak. Apalagi jika telah berkeluarga. Laki-laki lebih besar tanggung jawabnya daripada perempuan. Orang tua lebih berhak terhadap anak laki-lakinya. Sementara perempuan yang lebih berhak adalah suaminya.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah pernah ditanya ibunda Aisyah Radhiyallahu \u2018anha, \u201cSiapakah manusia yang paling berhak atas seorang istri?\u201d Beliau bersabda, \u201cSuaminya.\u201d Aku bertanya lagi, \u201cLalu siapakah manusia yang paling berhak atas seorang laki-laki?\u201d Beliau bersabda, \u201cIbunya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Berbakti kepada Orang Tua<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persepsi yang keliru adalah anggapan berbakti kepada kedua orang tua sebatas ketika masih kecil. Sementara setelah menikah, hak-hak orang tua khususnya terhadap anak laki-laki tergantikan dengan istri. Tak jarang, seorang suami harus meminta ijin kepada istrinya untuk mengunjungi kedua orang tuanya atau memberikan rezeki yang didapatnya. Mereka tidak jadi memberikan, jika istri tidak mengijinkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sebuah hadits, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang siapa yang paling berhak atas dirinya:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?\u201d Rasulullah menjawab, \u201cIbumu.\u201d \u201cKemudian siapa?\u201d tanyanya lagi. \u201cIbumu,\u201d jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, \u201cKemudian siapa?\u201d \u201cIbumu.\u201d \u201cKemudian siapa?\u201d tanya orang itu lagi. \u201cKemudian ayahmu,\u201d jawab Rasulullah. (HR. Bukhari dan Muslim).<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut beberapa kisah yang dapat diambil pelajaran, betapa tanggung jawab dan kewajiban terhadap orang tua tidak tergantikan bagi anak laki-laki meskipun terhadap istrinya:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kisah <\/strong><strong>T<\/strong><strong>iga <\/strong><strong>P<\/strong><strong>emuda yang <\/strong><strong>T<\/strong><strong>erjebak dalam <\/strong><strong>G<\/strong><strong>ua<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kisah ini menjadi inspirasi, betapa amal yang paling ikhlas adalah saat seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya. Dikisahkan, ada tiga orang sedang berjalan, kemudian turun hujan lebat. Lalu mereka pun berlindung ke dalam sebuah gua di sebuah gunung. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung itu lalu menutupi mulut gua mereka. Kemudian sebagian mereka berkata kepada yang lain, \u201cPerhatikan amalan shalih yang pernah kamu kerjakan karena Allah. Lalu berdoalah kepada Allah dengan amalan itu. Mudah-mudahan Allah menyingkirkan batu itu dari kalian.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu berdoalah salah seorang dari mereka, \u201cYa Allah, sesungguhnya aku mempunyai dua ibu bapak yang sudah tua renta, seorang istri, dan anak-anak yang masih kecil, di mana aku menggembalakan ternak untuk mereka. Kalau aku membawa ternak itu pulang ke kandangnya, aku perahkan susu dan aku mulai dengan kedua ibu bapakku. Lantas, aku beri minum mereka sebelum anak-anakku. Suatu hari, ternak itu membawaku jauh mencari tempat gembalaan. Akhirnya aku tidak pulang kecuali setelah sore, dan aku dapati ibu bapakku telah tertidur.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku pun memerah susu sebagaimana biasa. Lalu aku datang membawa susu tersebut dan berdiri di dekat kepala mereka dalam keadaan tidak suka membangunkan mereka dari tidur. Aku pun tidak suka memberi minum anak-anakku sebelum mereka (kedua orang tuanya) meminumnya. Anak-anakku sendiri menangis di bawah kakiku meminta minum karena lapar. Seperti itulah keadaanku dan mereka, hingga terbit fajar. Maka kalau Engkau tahu, aku melakukan hal itu karena mengharapkan wajah-Mu, bukalah satu celah untuk kami dari batu ini agar kami melihat langit.\u201d Lalu Allah bukakan satu celah hingga mereka pun melihat langit.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kisah <\/strong><strong>A<\/strong><strong>l Qomah yang Menyakiti Ibunya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kisah lain yang cukup masyhur adalah kisah Al Qomah. Seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Hubungan yang tidak baik antara Al Qomah dan ibunya menjadikan ibunya marah. Kemarahan ibunya inilah yang menjadikan Al Qomah kesulitan mengucapkan kalimat tauhid saat sakaratul maut. Dikisahkan:<\/p>\n\n\n\n<p>Al Qomah sakit keras. Maka istrinya mengirim utusan kepada Rasulullah Shallallahu \u2018Alaihi wa Sallam untuk memberitahukan keadaan Al-Qomah. Maka Rasulullah Shallallahu \u2018Alaihi wa Sallam mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib Ar Rumi dan Bilal bin Robah untuk melihat keadaannya. Ketiga shahabat Rasulullah tersebut mentalqin Al Qomah dengan mengucapkan kalimat, \u201cLa ilaha illah,\u201d namun Al Qomah tidak mampu mengucapkan. Akhirnya, hal tersebut dikabarkan kepada Rasulullah. Maka dihadirkanlah ibunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah bertanya kepada ibu Al Qomah, \u201cBagaimana sebenarnya keadaan putramu Al Qomah?\u201d Sang ibu menjawab, \u201dWahai Rasulullah, dia rajin&nbsp; mengerjakan shalat, banyak puasa, dan senang bersedekah.\u201d Lalu Rasulullah bertanya, \u201cLalu bagaimana perasaanmu terhadapnya?\u201d Dia menjawab, \u201dSaya marah kepadanya wahai Rasulullah.\u201d Rasulullah bertanya lagi, \u201cKenapa?\u201d Dia menjawab, \u201cWahai Rasulullah, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya, dan dia pun durhaka kepadaku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah mengancam untuk membakarnya jika ibunya tidak merelakannya. Akhirnya atas keridhoan ibunya tersebut, Al Qomah mampu mengucapkan kalimah tauhid dalam sakaratul mautnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kisah Juraij, Ahli Ibadah yang <\/strong><strong>M<\/strong><strong>elalaikan Ibunya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Lain Al Qomah, lain Juraij. Ia lebih mementingkan ibadahnya daripada panggilan ibunya. Dikisahkan, Juraij sedang shalat di sebuah tempat peribadatan, lalu datanglah ibunya memanggil. Lalu ibunya berkata, \u201cHai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku!\u201d Kebetulan perempuan itu mendapati anaknya sedang melaksanakan shalat. Saat itu Juraij berkata kepada diri sendiri di tengah keraguan, \u201cYa Tuhan! Ibuku ataukah shalatku.\u201d Kemudian Juraij memilih meneruskan shalatnya. Maka pulanglah perempuan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak berapa lama perempuan itu kembali lagi untuk yang kedua kali. Ia memanggil, \u201cHai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku!\u201d Kembali Juraij bertanya kepada dirinya sendiri, \u201cYa Tuhan! Ibuku atau shalatku.\u201d Lagi-lagi dia lebih memilih meneruskan shalatnya. Karena kecewa, akhirnya perempuan itu berkata, \u201cYa Tuhan! Sesungguhnya Juraij ini adalah anakku. Aku sudah memanggilnya berulang kali, namun ternyata dia enggan menjawabku. Ya Tuhan! Janganlah engkau mematikan dia sebelum Engkau perlihatkan kepadanya perempuan-perempuan pelacur.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu hari seorang penggembala kambing berteduh di tempat peribadatan Juraij. Tiba-tiba muncullah seorang perempuan dari sebuah desa. Kemudian, berzinalah penggembala kambing itu dengannya, sehingga hamil dan melahirkan seorang anak lelaki. Ketika ditanya oleh orang-orang, \u201cAnak dari siapakah ini?\u201d Perempuan itu menjawab, \u201cAnak penghuni tempat peribadatan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Masyarakat marah dengan mendatangi Juraij. Mereka merobohkan rumahnya. Namun, saat Juraij bertanya kepada anak tersebut, dengan pertolongan Allah anak tersebut menjawab bahwa bapaknya adalah pengembala kambing.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah-kisah tersebut memberikan arti yang mendalam bagi seorang muslim arti berbakti kepada kedua orang tua, khususnya bagi seorang anak laki-laki.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah kewajiban seorang anak. Apalagi jika telah berkeluarga. Laki-laki lebih besar tanggung jawabnya.<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":1904,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-1900","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-keluarga"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1900","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1900"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1900\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1904"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1900"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1900"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1900"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}