{"id":1374,"date":"2023-08-04T16:01:27","date_gmt":"2023-08-04T09:01:27","guid":{"rendered":"https:\/\/fkam.id\/?p=1374"},"modified":"2023-08-04T16:01:27","modified_gmt":"2023-08-04T09:01:27","slug":"nabi-ibrahim-bapak-para-nabi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.fkam.id\/?p=1374","title":{"rendered":"Nabi Ibrahim Bapak Para Nabi"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hubungan Nabi Muhammad Shallallahu \u2018Alaihi wa Sallamdengan Nabi Ibrahim <em>\u2018<\/em>Alaihissalam bukan sekadar hubungan nasab. Lebih dari itu, Nabi Muhammad adalah pengikut ajaran Nabi Ibrahim yang hanif, yaitu ajaran tauhid. Beliau mengenalkan kembali bangsa Arab kepada keyakinan dan ajaran Nabi Ibrahim kemudian memulihkannya seperti sebelumnya serta menetapkannya sebagai syariat Ilahi. Allah menyatakan di dalam Al-Qur\u2019an, \u201cKemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), \u2018Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif\u2019.\u201d(QS. An-Nahl: 123).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, sejarah Nabi Muhammad tidak bisa dilepaskan dari sejarah Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad adalah pewaris dan pelanjut dakwah Nabi Ibrahim. Sebagaimana dalam shalawat kita menyebut nama Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim, dalam mengkaji sirah nabawiyah pun kita perlu menjelajahi sejarah perjuangan keduanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Berdakwah di Babilonia<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Nabi Ibrahim dilahirkan di Babilonia, negeri Kan\u2018an, kurang lebih 4.000 tahun sebelum Masehi. Ayahnya bernama Tarukh bin Nahur, yang juga dikenal dengan nama Azar sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur\u2019an. Menurut pendapat sebagian ulama, Azar bukan ayah sebenarnya Nabi Ibrahim, tetapi pamannya. Azar bekerja sehari-hari sebagai pemahat patung berhala yang pada umumnya menjadi sesembahan penduduk Babilonia yang berada di bawah kekuasaan Raja Namrud.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa bulan sebelum Nabi Ibrahim lahir, di kalangan penduduk Babil tersebar luas berita ramalan para ahli nujum bahwa tidak lama lagi di negeri itu akan lahir seorang anak laki-laki yang akan merusak kepercayaan penduduk dan akan menghancurkan berhala-berhala sesembahan yang mereka agungkan dan puja-puja sebagai tuhan. Berita ini terdengar oleh Raja Namrud dan dianggap sebagai ancaman terhadap singgasananya. Ia segera memerintahkan anak buahnya supaya mengumpulkan semua wanita yang sedang hamil di sebuah tempat. Setiap bayi laki-laki yang lahir dari rahim mereka harus dibunuh. Ibu Nabi Ibrahim berhasil menyelamatkan diri dengan bersembunyi di sebuah gua tidak jauh dari daerah tempat tinggalnya. Di dalam gua itulah Nabi Ibrahim dilahirkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah dewasa, Nabi Ibrahim diminta membantu Azar untuk menjajakan patung-patung buatannya. Ia menolaknya dengan halus, namun Azar tetap memintanya. Akhirnya ia lakukan perintah Azar tersebut. Saat berada di pinggir sungai, Nabi Ibrahim mencelupkan kepala patung ke dalam air seraya berkata, \u201cMinumlah air ini! Mengapa kamu tidak bisa meminumnya, padahal kamu adalah tuhan yang disembah? Bagaimana orang mau membeli barang yang tidak berguna sepertimu?\u201d Patung-patung itu pun jadi tidak laku dijual.<\/p>\n\n\n\n<p>Nabi Ibrahim mengingatkan ayah dan kaumnya bahwa patung-patung sesembahan mereka adalah tuhan-tuhan palsu. Mereka tidak terima dengan peringatan Nabi Ibrahim. Mereka membantah dan menyatakan bahwa perbuatan mereka itu merupakan tradisi warisan leluhur. Mereka setia menjaga tradisi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada suatu ketika, Raja Namrud beserta penduduk Babilonia pergi ke hutan untuk melaksanakan upacara perayaan berburu binatang. Kota menjadi sepi. Kesempatan ini digunakan oleh Nabi Ibrahim untuk menunjukkan kebatilan akidah masyarakat Babilonia. Ia pergi dengan membawa kapak menuju kuil tempat patung-patung berhala dipancangkan orang sebagai sesembahan. Ia menghancurkan semua berhala itu hingga menjadi tumpukan puing kayu dan logam yang berhamburan di tengah kuil itu. Hanya satu berhala yang ia biarkan utuh, yaitu berhala yang paling besar. Di bahu berhala itu sengaja diletakkan kapak agar kaumnya mau menggunakan akal mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Raja Namrud dan orang-orang mulai kembali ke kota dengan berkelompok-kelompok setelah puas berburu binatang di hutan. Sebelum pulang ke kediaman masing-masing, mereka biasanya akan memasuki kuil untuk melakukan pemujaan kepada berhala. Alangkah terkejutnya mereka tatkala mendapati berhala-berhala pujaan mereka hancur berantakan. Suasana menjadi hening dan mencekam. Setiap orang gelisah.<\/p>\n\n\n\n<p>Tiba-tiba salah seorang di antara mereka memecahkan keheningan dengan berkata, \u201cSiapakah yang telah melakukan kejahatan terhadap tuhan-tuhan kita ini?\u201d Orang yang pernah melihat pengingkaran Nabi Ibrahim terhadap penyembahan patung-patung menyahut, \u201cKami mendengar ada seorang pemuda mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.\u201d Orang lainnya segera menimpali, \u201cKalau begitu, bawalah dia kemari dengan cara yang dapat dilihat oleh orang banyak agar mereka menyaksikan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah Nabi Ibrahim didatangkan, mereka bertanya, \u201cApakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?\u201d \u201cTanya saja kepada berhala yang paling besar itu jika memang ia bisa berbicara. Sepertinya dialah yang melakukannya,\u201d jawab Nabi Ibrahim. Orang-orang pun marah. Mereka merasa dipermainkan. Mereka berkata, \u201cKamu khantahu bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.\u201d \u201cKalau memang tidak bisa berbicara, mengapa kalian sembah,\u201d tanya balik Nabi Ibrahim. Mereka diam tidak bisa berkata-kata.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun kalah argumen, mereka tetap tidak mau tunduk kepada kebenaran. Mereka membakar Nabi Ibrahim sebagai hukuman atas perbuatannya. Akan tetapi, Allah menyelamatkannya dari kematian. Demikianlah kisah Nabi Ibrahim ini diabadikan dalam Al-Qur\u2019an surat Al-Anbiya\u2019: 51-71.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hubungan Nabi Muhammad dengan Nabi Ibrahim bukan sekadar hubungan nasab. Nabi Muhammad adalah pengikut ajaran tauhid Nabi Ibrahim yang hanif.<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":1385,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-1374","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-siroh-nabawiyah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1374","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1374"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1374\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1385"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1374"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1374"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.fkam.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1374"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}